ACI GLOW DOWN

Toss, Indonesia berada di posisi paling unggul, tapi juga paling norak dalam urusan tembakau

Bang, boleh minjem korek, ga? Penulis ini mau ngebakar bahan pahit yang bagi umatnya perokok dan 'passive smokers' di Indonesia sudah menjadi begitu normal, sehingga jarang dipertanyakan: Emang mantap yah kalau 76 persen masyarakat laki di Indonesia tergolong perokok?

ACI

ACI

Article Image Title
Editor: Marten S.
31.05.2023

31 Mei diperingati sebagai Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Kesempatan untuk segelintir penggerak yang ingin membebaskan Indonesia dari kecanduan pada nikotin. Tahun lalu mereka ngumpul di Bundaran HI di Jakarta dan beraksi demi peringatan atas kesehatan. Beberapa orang di samping pos polisi Bundaran HI dan starling di sekitarnya mungkin sempat menyaksikannya. That’s it. 

'Kegatelan' untuk nyebat rupanya sudah direkayasa ke dalam DNA kita. Saatnya kita coba mengekstraksi untai DNA itu 

Terlepas dari agama dan latar belakangmu, ketika memasuki restoran, hanya ada satu pertanyaan yang mendefinisikan identitas dan way of living mu: ‘Smoking apa non-smoking, kak?’ – Sebuah pertanyaan yang kita menganggap biasa saja, berkat kita semua dari umur masih kecil pun tumbuh lekat dengan tembakau. Pengalaman ‘first-contact’ bervariasi. Mungkin saja kamu pernah mengalami puntung rokok dipadamkan pada kulitmu karena orang tua stres; atau kamu dari kecil terbiasa boker di toilet yang dihiasi botol plastik berisi air racun berwarna ultra black; ataupun mungkin kamu hanya kenal dengan kakekmu dari cerita ingatan kolektif sekeluarga, karena si kakek dikenang sebagai kereta api.

Indonesia bak Disneyland bagi industri rokok

Umumnya, kita baru sadar atas sebuah kebiasaan tertentu, ketika terpandang pilihan alternatif. Kendatipun kebiasaan untuk merokok semakin merosot di kebanyakan negara, habit itu merupakan bagian dari kehidupan di Indonesia: Numpang lewat, kita terpapar awan asap, keluar dari mulut orang. Menyantap ketoprak dari gerobak pinggir jalan, terbawa perasaan aroma tembakau masih sedikit tersisa pada ketupat, habis si tukang ketoprak terburu-buru memadamkan puntung rokok untuk menyiapkan pesanan kita. 

Menurut orang-orang yang peduli dengan mereduksi konsumsi lintingan bernikotin di Indonesia, negeri ini layak dicap ‘Tobacco Industry’s Disneyland’. 76 persen dari masyarakat lelaki merupakan perokok. Tidak hanya itu, 20 persen antara remaja berumur 13 hingga 15 tahun sudah merokok.

Kendati konsumsi rokok nikotin makin merosot di taraf global, pemasaran rokok di Indonesia semakin berkembang, lantaran regulasi dan kebijakan  pemerintah tak serumit dibandingkan negara-negara lebih maju. Indonesia telah menjadi pasar andalan untuk industri rokok. Sebuah fakta yang rupanya sudah terlalu sulit ditantang.

Swedia berada pada kutub sebaliknya, dan akan menjadi negara bebas rokok pertama di dunia. Dengan hanya 6 persen dari masyarakat yang masih tergolong perokok, tersisa persentase yang menakjubkan ketika dibandingkan dengan 76 persen perokok (laki-laki) di Indonesia. 

Baca juga: Studi: Konsumsi narkoba tidak ada pengaruh positif pada kreativitas

Asap Rokok, Asap Rocky 

Antara ragam studi yang menelusuri anggapan orang muda di Indonesia mengenai kebiasaan merokok, tenornya bisa diringkas dengan simpel: Karena group pressure, karena dianggap keren, dan sebagai alat untuk bersosialisasi. Asumsi itu bisa dilapisi dengan investigasi kecil-kecilan di media sosial, di aplikasi kencan, dan dimanapun orang-orang mengunggah foto-foto mereka. – Foto-foto yang paling mewakili bagaimana mereka melihat diri sendiri dalam versi paling mantap untuk dibagi dengan semesta online. Seperti foto-foto pas naik moge atau berpose nangkring, seraya memegang batang rokok.

Terlepas dari kelas ekonomi, merokok itu de rigueur di semua lingkungan sosial. Baik antara anak-anak skater di pinggir kota ataupun anak-anak estetika Jaksel. Kalau pernah malam-mingguan di luar negeri, mungkin kalian sudah tahu betapa lebih enak rasanya balik hotel/rumah ketika kostum malam-mingguan kalian tidak bau bak organisme busuk yang dibakar atas api berminyak racun, lalu dijemur di jembatan jalan tol. 

Boleh Merokok Indonesia
Foto: Wiki Commons

Voice-Over berat, jantan dan dominan: Pasti iklan rokok 

Indonesia tersisa sebagai negara terakhir – satu-satunya di dunia – yang masih memperbolehkan iklan rokok ditayang dan dipaparkan di ruang publik (seperti di bioskop). Indonesia punya! – Yaitu kekhasan iklan rokok dengan narasi ‘gagah’ dan ‘berani’ – untuk mengafirmasi bahwa semua pria gagah dan berani punya selera!

Bukan iklan rokok, kalau gak ada protagonis berdiri di helipad di atas gedung pencakar langit, lalu lompat dari gedung memakai seragam skydiver, kemudian berlabuh di tepi pantai diiringi settingan tropis, lantas ditarik oleh speedboat ke laut lepas, di mana sebuah ombak sendang timbul seketika si protagonis tampan berselancar, sehingga aliran gelombang pecah dan si protagonis rupanya menghilang untuk sesaat – SUSPENSE – hanya untuk muncul kembali – RELIEF – seketika tangannya ditarik oleh teman yang menyetir speedboat. Dan itu semua demi gestur per-bonding-an sembari mereka tersenyum pada kamera. Jadi pengen ngerokok juga.  

Male Bonding

Aspek lain yang membuat konsumsi rokok laris-manis antara laki-laki di Indonesia adalah pengalaman coming-of age dan male bonding yang diiringi asap rokok. Nyebat bareng menjadi alat bersosialisasi dalam segala bentuk kumpulan laki-laki (dan juga perempuan). Gudang Garam, Sampoerna Melon Splash, Esse Bana Pop – semua jenis rasa dan keharuman sudah akrab kita mengasosiasikan dengan tipe-tipe perokok tertentu. Hanya saja, Esse mungkin bukan alat pilihan untuk bonding.

Melanggengkan sifat patriarkis 

Nyaris 80 persen masyarakat laki-laki di Indonesia rutin menghirup rokok, namun kurang dari 4 persen dari perempuan Indonesia merokok. 

Asimetri itu bisa dilihat sebagai standar ganda dalam budaya kita. Tak ada hal lebih lazim dari cowok-cowok ABG merokok, namun perempuan (berhijab) yang merokok di ruang publik tampaknya terekspos pada stigmatisasi khusus (Ibu saya sendiri udah jelas orang pertama yang bakal ngegosip kalau perempuan berjilbab dari meja sebelah menyalakan rokok). 

Yang kita anggap normal, sebenarnya cukup miris 

Kembali ke penalaran bahwa kita baru sadar atas hal-hal tertentu ketika tersaji dengan pilihan alternatif. Sebotol air mineral (kebutuhan dasar yang di negara ini tak bisa disediakan secara gratis) biasa diperjualbelikan dengan harga kisaran Rp 2,000 hingga 10,000. Harga sebungkus pembalut wanita dapat mencapai Rp 30,000 maupun lebih. Sebungkus rokok: Mulai dari harga Rp 8,000 saja. 

Indonesia adalah satu antara hanya delapan negara di seluruh dunia yang tidak menyetujui atas Konvensi Kerangka Kerja Pengendalian Tembakau oleh WHO, yang bertujuan untuk membatasi peluang bagi industri tembakau untuk berlobi pada penguasa. 

WHO memperingatkan bahwa industri tembakau menyebabkan kelaparan 

Bagi kita yang tinggal di penjuru-penjuru kota, tinggal terima saja nasibnya bahwa udara kita sudah diracun banyak substansi berbahaya. Tidak hanya nikotin, asap dari kendaraan bermotor berkontribusi sangat buruk. Tapi, bukan hanya membran paru-paru kita yang rentan dipancarkan racun, lingkungan kita juga tidak digunakan semestinya. Penanaman tembakau memakan sumber lingkungan yang semestinya digunakan untuk menanam pangan bagi masyarakat miskin di dunia.

Rokok punya rasa, sensasi, merupakan alat untuk menyendiri, namun juga untuk bersosialisasi. Thanks ya, koreknya.  

 

Baca artikel lainnya dari rubrik ACI GLOW DOWN

Alasan konsumen di Indonesia memilih baju bekas