KRITIK PAMERAN SENI

Apa sih gunanya bikin pameran seni rupa tanpa mengedukasi pengunjungnya?

Galeri Nasional telah berhasil mengundang orang berbondong-bondong datang ke pemerannya Butet Kartaredjasa. Sayangnya, ruang-ruang galeri cuma sebatas wallpaper gratisan untuk berburu selfie. Sebagai statement nan artsy, kami diam-diam nge-photobomb hasil jepretan para pengunjung.

ART CALLS INDONESIA turut berpelesir ke Gambir untuk menangkap suasana di pameran ‘Melik Nggendong Lali’ di Galeri Nasional Indonesia. | Foto: Art Calls Indonesia

ART CALLS INDONESIA turut berpelesir ke Gambir untuk menangkap suasana di pameran ‘Melik Nggendong Lali’ di Galeri Nasional Indonesia. | Foto: Art Calls Indonesia

Article Image Title
Editor: Marten S.
10.06.2024

Anak-anak Jakarta gandrung akan adanya tempat-tempat publik yang bernuansa sedikit non-komersial. Galeri Nasional dikenal sebagai salah satu tempat pelesiran yang ramai dikunjungi anak muda. Pameran terakhir yang diselenggarakan Galeri Nasional telah memperkenalkan nama seniman interdisiplin Butet Kartaredjasa pada audiens yang lebih luas. ACI turut berpelesir ke Gambir untuk menangkap suasana di pameran ‘Melik Nggendong Lali’.

Pagelaran seni ini menampilkan karya-karya sarat politik, namun pengunjung awam tidak diajak untuk berpikir dan merefleksi sendiri. Ruang-ruang galeri hanya dipakai sebagai wallpaper gratisan untuk tampil maksimal saat selfie. 

2

Photo-Booth XXL: Suasana di pameran ‘Melik Nggendong Lali’ | Foto: ACI

Selfie adalah tindakan penuh perhitungan dan pencitraan. Sedangkan, seni adalah tindakan penuh hati dan intelek. Di sela-sela disharmoni ini, kurator Asmudjo J. Irianto rada gagal menampung animo audiens demi memberi suatu pengalaman lebih meaningful. Karya-karya yang dipajang bahkan tidak disertakan penjelasan apa pun. 

Tanda Cinta

Agar para pengunjung, yang sudah ramai-ramai datang ke pameran, setidaknya paham sedikit akan konteks koleksi karyanya, tertempel beberapa paragraf kuratorial pada dinding ruangan pertama.

Masalahnya, orang-orang yang memang suka nyeni saja cenderung mager membaca-baca sambil berdiri. – Banyak pameran membatasi penyerahan pengetahuan kepada pengunjung pada papan-papan yang kudu dibaca dulu, supaya kita mengerti tentang konflik agama di wilayah Konawe pada abad ke-18, dan makna warna kuning. Habis berpura-pura baca, kita memandang karya-karyanya untuk mengecek apakah si pelukis memang mengejawantahkan gagasannya selaras kata pengantar. Prinsip saya: Kalau saya disuruh baca banyak, saya maunya sambil bisa duduk. 

3

4

Selfie-Esteem bukan Self-Esteem: Suasana di pameran ‘Melik Nggendong Lali’ | Foto: ACI

Tatkala saya membaca teks kuratorial pameran ‘Melik Nggendong Lali’, seorang laki-laki di sebelah saya tampak bingung membaca kata pengantar itu dan bertanya pada temannya: "Wirid itu apa sih?" – "Ga tau." Kebetulan pameran ‘Melik Nggendong Lali’ ini mewiridkan kemarahan Butet Kartaredjasa. 

Kemarahan itu yang (secara harfiah) tertulis dalam karya-karya Butet Kartaredjasa, tampaknya tidak menghunjam para pengunjung. Mereka berlalu-lalang, sibuk mencari sudut terbaik dalam galeri buat foto-fotoan. Selfie-spot pertama yang dituju banyak pengunjung adalah sebuah patung pria berwajah emas dan berhidung panjang. 

Pengunjung beria-ria berfoto bersama patung 'Petruk', yang mengekspresikan kehendak Butet Kartaredjasa untuk mengungkap modus operandi para politikus di Tanah Air. Dengan setiap swafoto, karya tersebut tampaknya terjungkal dan semakin absurd. – Refleksi para pengunjung bisa dilacak di media sosial: Selfie-selfie caem, ceria dan estetis dengan sebuah karya seni yang sebenarnya mengacu pada politik kebohongan dan bagaimana para politikus menipu kita semua. 

Senarsis apa pun pengunjungnya, teks ini tidak dimaksudkan untuk mengolok-olok mereka yang kebelet eksis dan tidak paham akan kesenian. Justru, teks ini berpihak pada mereka. Galeri Nasional sudah dikenal sebagai tempat untuk menyaksikan seni secara bebas akses. Namun, setidaknya dalam pameran ‘Melik Nggendong Lali’ kurator Asmudjo J. Irianto tidak berhasil mengonstruksi khalayak baru – aspek yang cukup penting.

Baca juga: Pernahkah kamu merasa sebel selepas menonton sebuah acara seni?

6

7

Kami diam-diam nge-photobomb hasil jepretan para pengunjung. | Foto: ACI

Saya sendiri sering merasa jenuh mengunjungi pameran-pameran seni rupa, karena tidak terjadi interaksi apa pun. Baik dengan karya – apalagi senimannya – maupun sesama pengunjung. Meski kita berada dalam satu ruangan dengan orang-orang yang se-vibes dengan kita (momentum yang sebenarnya sangat berharga), tidak akan terfasilitasi dan tercipta dialog apa pun. Abis nonton? Yaudah pulang aja sendiri-sendiri. Ketiadaan interaksi itu bukan terjadi karena penikmat seni rerata insan-insan introvert, tapi karena kita perlu mengonstruksi mereka terlebih dahulu sebagai bagian dari acara yang mereka hadiri. 

Daripada mengalihwahanakan ruangan museum menjadi sebatas spot foto yang imersif (instalasi-instalasi berbasis proyeksi video), lebih baik sarana museum difokuskan pada pengantaran pengetahuan dan interaksi secara multi-arah. (Marten S., Art Calls Indonesia, 10.06.2024)